kapsul waktu bernama ramadan

Suara dentingan sendok sayur yang dibolak-balik di wajan membangunkanmu dari tidur. Suasana malam itu tenang. Remang sinar lampu dapur menembus tirai kamarmu, menampilkan siluet ibu yang tengah menghangatkan sayur sisa semalam. Saat matamu perlahan terbuka, kamu mendapati ayah duduk di sampingmu, barangkali sudah berusaha membangunkanmu sejak tadi“Bangun, Nak. Dua puluh menit lagi imsak,” kata ayah.

Baru saja kamu hendak menyahut, cahaya lampu mendadak berganti warna. Seketika, pemandangan itu lenyap. Kamu tak lagi berada di kamar lamamu, melainkan di sebuah ruang yang berbeda; kamar kosmu. Sendirian. Dari kejauhan, terdengar sayup-sayup suara takmir masjid mengumumkan imsak dua puluh menit lagi. Ada perasaan ganjil yang menyelusup ke dalam dadamu, sebuah rasa yang belum sepenuhnya bisa kamu beri nama.


Di kepalamu, ratusan film seolah diputar bersamaan. Kepingan-kepingan kenangan tentang Ramadan sepanjang hidupmu bermunculan tanpa aba-aba. Kamu teringat saat membeli Al-Qur’an pertamamu bersama ayah. Rumah pohon yang kamu bangun bersama sepupumu di liburan panjang bulan puasa. Kebersamaan dengan teman-teman di asrama. Juga lampu-lampu temaram di gang perumahan yang menemani langkah kaki pulang tarawih dari masjid.

Belakangan ini, setiap Ramadan datang, kamu sering merasakan kekosongan. Tidak lagi seperti dulu, saat kamu menyambutnya dengan antusias dan tulus. Namun perlahan kamu menyadari, bukan Ramadan yang berubah, melainkan dirimu. Kekosongan itu mungkin lahir dari kerinduan pada versi dirimu yang dulu, yang terus bertumbuh dan berganti tanpa pernah benar-benar kamu sadari.

Saat itulah kamu mengerti: Ramadan ibarat sebuah kapsul waktu. Tempat segala kenangan dalam berbagai versi dirimu tersimpan rapi. Dia didatangkan tepat ketika hatimu terlalu ramai oleh distraksi yang membuatmu lelah. Dan kapsul waktu itu selalu terbuka setiap tahunnya.

Semoga kehadiran Ramadan menenangkan jiwamu. Karena ia tak pernah benar-benar pergi, namun selalu kembali untuk membantumu pulang menjadi dirimu lagi.

Komentar

Posting Komentar